Me"Marjinal"kan diri
Sering kali dalam sebuah diskusi , ada ego dalam diri yang berhasrat untuk "menguasai". Dalam hal apapun, pada semesta pembicaraan yang sedang berjalan. Contohlah ketika kita berbicara tentang teknologi, maka dalam sebuah diskusi kita berhasrat untuk "show up" bahwa kita yang paling ngerti tentang teknologi, atau ketika ada sebuah diskusi tentang sepak bola maka kita akan banyak bicara untuk menunjukan bahwa kita adalah pakarnya.
Lalu apa masalahnya ?
Buat saya tidak menjadi masalah, selama di sampaikan dengan cara- cara yang elegan , natural dan tidak bermaksud untuk mengalahkan siapapun.
Dan yang paling sering saya jumpai adalah ketika diskusi tentang agama, atau hal- hal yang terkait dengan keyakinan kita maka akan ada orang- orang yang ingin menunjukan bahwa dia yang paling alim , paling faham dan paling beriman di antara yang lain.
Ketika ada pembicaraan tentang dunia, maka dia akan berbicara seolah dialah yang paling sukses, paling kaya di antara yang lain.
Dan ketika pada posisi seperti itulah maka , saya lebih memilih untuk memarjinalkan diri saya sendiri . Ketika orang lain berebut untuk jadi pemenang, maka saya yg akan menjadi yang paling kalah. Ketika orang lain berebut untuk menjadi yang paling alim, maka saya yg akan menjadi yang paling tidak alim , paling tidak iman , paling bodoh .
Karena jika kita berfikir dengan jernih , orang2 yang sudah mampu menguasai diri dan jiwanya , mereka lebih tenang , lebih luas dalam memandang lebih santai dalam berfikir .
Mereka tidak memerlukan pengakuan dari manusia, mereka hanya butuh pengakuan dari Tuhannya, biarlah orang lain mengira bodoh , mengira paling miskin, paling gak tau apa2, mengira paling marjinal , namun yang penting dia sudah mendapatkan apa yang di "maui" oleh Tuhannya , dan mengerjakan tanpa perlu orang lain mengakuinya.
Lalu apa masalahnya ?
Buat saya tidak menjadi masalah, selama di sampaikan dengan cara- cara yang elegan , natural dan tidak bermaksud untuk mengalahkan siapapun.
Dan yang paling sering saya jumpai adalah ketika diskusi tentang agama, atau hal- hal yang terkait dengan keyakinan kita maka akan ada orang- orang yang ingin menunjukan bahwa dia yang paling alim , paling faham dan paling beriman di antara yang lain.
Ketika ada pembicaraan tentang dunia, maka dia akan berbicara seolah dialah yang paling sukses, paling kaya di antara yang lain.
Dan ketika pada posisi seperti itulah maka , saya lebih memilih untuk memarjinalkan diri saya sendiri . Ketika orang lain berebut untuk jadi pemenang, maka saya yg akan menjadi yang paling kalah. Ketika orang lain berebut untuk menjadi yang paling alim, maka saya yg akan menjadi yang paling tidak alim , paling tidak iman , paling bodoh .
Karena jika kita berfikir dengan jernih , orang2 yang sudah mampu menguasai diri dan jiwanya , mereka lebih tenang , lebih luas dalam memandang lebih santai dalam berfikir .
Mereka tidak memerlukan pengakuan dari manusia, mereka hanya butuh pengakuan dari Tuhannya, biarlah orang lain mengira bodoh , mengira paling miskin, paling gak tau apa2, mengira paling marjinal , namun yang penting dia sudah mendapatkan apa yang di "maui" oleh Tuhannya , dan mengerjakan tanpa perlu orang lain mengakuinya.
0 Response to "Me"Marjinal"kan diri "
Posting Komentar